RUMAH KITA Maret 8, 2007
Posted by hiperkes95 in Artikel.add a comment
RUMAH KITA
(SUDAHKAH MENJADI HOME ATAU SEKEDAR HOUSE?)
“Selamat datang di kawasan hunian yang bervisi Baiti Jannati dengan
misi Rahmatan Lil’alamin. Dibangun berdasarkan konsep minimalis
dengan mengutamakan azaz-azaz efisiensi dan efektivitas serta
pengoptimalisasian setiap sudut ruangan yang mencerminkan
kesederhanaan dan kebersahajaan hidup penghuninya. “
Untaian kalimat di atas sepintas memang seperti promo dari sebuah
developer hunian tapi bukan. Itu adalah sebuah refleksi saya
terhadap rumah idaman saya di dunia, mungkin juga idaman sebagian
orang yang mengutamakan esensi dan kesederhanaan. Sebuah rumah
idaman yang tidak hanya sekedar house tapi juga home bagi
penguhuninya.
Memang home dan house artinya sama-sama rumah. Namun berbeda
peruntukannya dalam kalimat. Misalnya antara broken house dan broken
home. Kalau broken house bangunan rumahnya yang rusak. Tapi kalau
broken home, bisa jadi bangunan rumahnya tidak rusak, namun telah
hilang perasaan cinta dan rindu antara penghuni rumah. Yang ada
hanya kekakuan yang diselingi pertengkaran yang kemudian
menghadirkan rasa sakit hati, benci, bahkan dendam. Itulah dia,
rumah tangga yang hancur alias keluarga berantakan.
Jadi dapat dikatakan bahwa home lebih kepada suasana kejiwaan dan
atmosfir yang terbangun dalam suatu rumah, tempat atau bangunan
lainnya. Sehingga dapat dimaknakan home sebagai suatu tempat yang
menawarkan rasa nyaman dan betah. Dengan demikian, di mana pun
tempat kita beraktivitas, apakah itu di kantor kita, toko kita,
ruang kelas kita, semuanya sebenarnya dapat kita `sulap’ menjadi
home. Sehingga kita dan orang-orang yang juga beraktivitas di sana
atau sekedar mampir, merasa nyaman dan betah. Dan, tentunya tempat
paling utama yang harus kita jadikan home adalah rumah kita.
Sehingga setiap penghuni rumah senantiasa rindu pulang. Terpatri
pada diri mereka semboyan “No Place Like Home” (tidak ada tempat
seperti (senyaman) di rumah. Atau yang lebih indah lagi, dengan
ungkapan Baiti Jannati, rumahku syurgaku. Bagaimana tidak, indahnya
jannah yang setiap orang rindu dan ingin pulang ke sana. Begitu juga
bila rumah yang telah jadi menjadi `syurga’ dunia bagi penghuninya.
Tentu selalu dirindu dan kalau sudah pergi ke tempat lain rasanya
ingin cepat pulang untuk melepas segenap kepenatan dan melupakan
segala kepedihan di luar sana.
Ukuran besar kecil rumah atau megah tidaknya rumah, sangatlah
relatif. Yang utama adalah atmosfir yang menyelubungi rumah
tersebut. Ada yang rumahnya white house bak istana tapi serasa
neraka bagi penghuninya sehingga mereka mencari home-home lain di
luar. Ada juga yang rumahnya KPR BTN RSS (Kredit Pemilikan Rumah
Bangunannya Tidak Normal Rasanya Sempit Sekali), namun jannah bagi
mereka. Tentu setiap orang mengidamkan rumah kalau bisa kombinasi
antara bangunan yang baik dengan suasana psikologis dan atmosfir
yang menyenangkan.
Rumah yang home bukanlah hotel yang meskipun nyaman tapi hanya untuk
sekedar menginap. Juga bukanlah yang ruang makannya laksana restoran
yang meskipun kursi makan dan menunya istimewa, namun hanya
menawarkan suasana kaku dan formil, kering dari cinta, sepi dari
canda, jauh dari pembelajaran dan kosong dari nasehat. Kata anak-
anak pengajian, “Kagak ada ruhnya!”. Rumah yang home adalah rumah
yang akan selalu menjadikan penghuninya dari waktu ke waktu semakin
sholeh, cerdas, berakhlakul karimah dan semakin kuat rasa cinta dan
rindu di antara mereka.
Saya berusaha memikirkan cirri-ciri home yang saya idamkan. Mungkin
ini akan memberkan inspirasi bagi Anda, atau mungkin Anda sudah
meraihnya, dan bahkan sudah melebihi yang saya pikirkan. Selamat,
ya! Do’akan saya segera menyusul.
Kira-kira poin-poin berikut inilah yang ingin saya hadirkan di home
idaman saya :
1. Tumbuh dan berkembangnya aktivitas ibadah.
Hal ini dapat dilihat dari ketaatan penghuni rimah akan perintah
Allah dan hidupnya sunnah-sunnah Rasulullah.
2. Tumbuh dan berkembangnya aktivitas keilmuan.
Hal ini dapat ditandai dengan tersedianya sarana-sarana penunjang
ilmu dan pengetahuan. Seperti adanya ruangan yang cukup
representatif untuk diadakannya pengajian. Di satu pojoknya ada mini
home library atau little book corner yang menyimpan berbagai koleksi
buku, surat kabar, jurnal, majalah, kliping, atau artikel penting.
Tersedianya sarana bermain anak yang edukatif. Tak kalah pentingnya
adalah seperti home theatre yang mengoleksi berbagai CD dan VCD ilmu
pengetahuan yang bermanfaat bagi seisi rumah. Terutama bagi putra-
putri kita yang sedang berada dalam masa `the golden ages’
mengingat sebagian besar acara TV yang semakin membuat resah orang
beriman. Dan kalau memungkinkan, ada perangkat komputer yang connect
ke internet agar memperoleh informasi yang luas dan cepat.
3. Terpatrinya perilaku hidup bersih, rapi dan berdisiplin pada
diri setiap penghuni rumah.
Bila ada najis segera dibersihkan, tidak ada saluran yang mampet,
kotoran yang mengendap atau bau yang tidak sedap. Barang-barang yang
berserakan dan ruangan yang berantakan segera dirapikan. Seluruh
anggota keluarga berdisiplin dan bertanggungjawab melaksanakan tugas
yang menjadi bagiannya.
4. Adanya perhatian yang besar terhadap kesehatan.
Terwujud dari penyusunan menu makanan yang halal, baik dan seimbang
zat gizinya. Serta adanya jadwal untuk berolahraga. Dan diupayakan
penyisihan dana untuk check up kesehatan.
5. Melekatnya sikap sederhana dan bersahaja.
Baik dalam makanan, minum, berpakaian, perkataan, dan gaya hidup,
serta terbangunnya azaz-azaz efisiensi, efektivitas, optimalisasi
dan kemampuan menyusun skala prioritas kehidupan.
6. Orang tua, terutama Ayah, sang kepala keluarga mengayomi dan
melindungi keluarga.
Yang tercermin dari kegigihannya mencari nafkah yang halal. Bersama
ibu berusaha menciptakan controlling system yang bekerja efektif
agar putra-putri terlindungi dan jauh dari perilaku-perilaku
menyimpang dan membahayakan aqidah, fisik, dan mental. Seperti
pergaulan bebas, narkoba, bid’ah dholalah, fenomena homo/
transseksual (gay/ lesbi/ waria), dan lain-lain.
7. Terbinanya suasana demokratis.
Setiap anggota keluarga dapat mengekspresikan perasaan dan
pendapatnya. Berkembangnya iklim tausiyah. Tiada acara kumpul-kumpul
keluarga melainkan senantiasa disisipi taujih.
8. Seisi rumah memiliki sensitivitas terhadap lingkungan
sekitar.
Senantiasa menjalin dan menjaga silaturrahim dengan tetangga. Selalu
terpanggil untuk bergabung dalam kegiatan-kegiatan sosial
kemasyarakatan dan fardhu kifayah. Ayah dan anak laki-laki selalu
shalat di mesjid. Serta memiliki perhatian terhadap lestarinya
ekosistem.
Demikianlah cirri-ciri home yang saya idamkan. Mudah-mudahan rumah
Anda sudah menjadi home ataupun jannah bagi Anda dan keluarga.
Sehingga Anda senantiasa merindukannya dan selalu ingin pulang.
Tidak ada lagi keinginan untuk berlama-lama di warung kopi atau
kafe. Enyahlah sudah ungkapan “Gue sebel di rumah” dari anak remaja
kita.
Bila setiap keluarga yang merupakan unit termungil pembentuk negara
dan pembangun peradaban ini, telah menemukan home ataupun jannahnya.
Dan telah berhasil menjadikan penghuninya dari waktu ke waktu
semakin sholeh, solid, cerdas, dan berakhlak karimah. Maka insya
Allah akan tercapailah seperti yang tercantum dalam QS 34:15,
Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Amin.
Oleh : Marina Lidya S. Pd
Belajar Mencintai Maret 2, 2007
Posted by hiperkes95 in Artikel.add a comment
Mari Kita Belajar Mencintai
Jika cinta, pada semua jenisnya, adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita. Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kapasitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian kuat dan kapasitas besar yang mampu mencintai. Orang-orang yang lemah, yang setiap saat bisa kita saksikan di sekitar kita, tidak akan pernah mencintai. Bahkan untuk mencintai diri mereka sekalipun. Takdir mereka adalah menantikan cinta dan kasih sayang orang-orang kuat.
Orang-orang kuat mencintai dengan segenap kesadarannya. Maka mereka terus menerus memproduksi kebajikan demi kebajikan. Sementara orang-orang lemah bahkan tidak memiliki kesadaran untuk mencintai. Maka mereka terus-menerus mengkonsumsi kebajikan orang-orang kuat. Itu sebabnya orang-orang kuat dalam masyarakat selalu merupakan faktor kohesi yang merekatkan masyarakat. Mereka merekatkan masyarakat dengan cinta dan kebajikan mereka.
Makna inilah yang ditebarkan oleh Rasulullah saw begitu beliau tiba di Madinah dan memulai kerja membangun Negara baru itu: “Wahai sekalian manusia, tebarkan salam, berikan makan, bangun sholat malam saat orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh damai.”
Ini merupakan penjelasan bagi keterangan selanjutnya. Bahwa untuk bisa mencintai, bahwa untuk menjadi pecinta sejati, kita harus mengembangkan kapasitas dan kepribadian kita untuk menjadi lebih baik secara berkesinambungan, pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang produktif untuk bisa memberi, pelajaran tentang bagaimana menjadi orang kuat yang penyayang, pelajaran tentang bagaimana melimpahruahkan kebajikan abadi bagi penumbuhan kehidupan orang-orang di sekitar kita yang kadang berujung tanpa sedikitpun rasa terima kasih, atau bahkan penolakan.
Ini bukan pelajaran tentang teknik atau keterampilan mencintai seperti ketika belajar tentang teknik berkomunikasi dengan orang lain, atau bagaimana merebut hati seseorang untuk suatu hubungan cinta asmara. Bukan. Sama sekali bukan tentang itu.
Ini adalah pelajaran tentang bagaimana membangun kembali dasar-dasar kepribadian yang kokoh dan tangguh, yang memungkinkan kita mencintai secara sadar, bertanggungjawab dan bertindak produktif untuk membuktikan cinta itu dalam kenyatan. Dan dengan begitu, cinta bukan saja berefek pada perbaikan berkesinambungan terhadap hubungan-hubungan kemanusiaan kita, tapi juga terutama pada perbaikan kehidupan kita seluruhnya secara berkesinambungan.
Dan ini mungkin dan terbuka. Semua kita bisa mempelajarinya. Alasannya sangat sederhana.
Rasulullah saw bersabda: “Ilmu diperoleh dengan belajar. Kesabaran diperoleh dengan belajar menjadi sabar. Kesantunan diperoleh dengan belajar menjadi santun.”
Ini menjelasakan bahwa di samping karakter-karakter bawaan yang melekat dalam diri kita sebagai warisan genetic, semua karakter lain bisa kita peroleh dengan mempelajari dan mengimplementasikan nya dalam kehidupan kita.
Begitu juga cinta. Begitu juga cinta. Semua kita bisa mencintai. Semua kita mungkin menjadi pecinta sejati. Asal kita mau belajar. Asal kita mau belajar bagaimana mencintai.
Sumber : Anis Matta, Lc
Jenuh Maret 2, 2007
Posted by hiperkes95 in Islami.add a comment
Jenuh
J : Jangan Berlebihan
Ada seorang wanita yang datang pada Aisyah. Aisyah memuji wanita itu sebagai ahli ibadah yang luar biasa, karena saking tekunnya ia menyediakan tongkat untuk berpegangan jika ia sudah tidak kuat berdiri ketika sholat.
Ketika hal itu disampaikan pada Nabi saw. Nabi bersabda : Jangan berlebihan, Allah itu tidak akan jenuh hingga engkau jenuh.
Atur ritme dalam segala hal, agar tak usang.
E : Efektifkan Komunikasi
Logika apa yang paling bisa menjelaskan maraknya friendster, ramainya sms, dan larisnya free talk walaupun tengah malam. Intinya sederhana, karena manusia diciptakan dengan kebutuhan untuk bercerita dan berbagi. Curhat dong, cari teman bercerita
N : Naik Ke Tantangan Berikutnya
Looking for new challenges. Ummat ini dilahirkan untuk menjadi ummat terbaik, khairu ummah, ini sunatullah. Melanggarnya hanya akan melahirkan kejenuhan. Kejenuhan bergerak, kejenuhan beramal, kejenuhan berinisatif. Naiklah ke anak tangga berikutnya, agar kau bisa uji kekuatanmu lebih jauh.
U : Undur Sejenak untuk Maju Lebih Jauh
Ijlis Bina’ Nu’min Sa-ah, begitu ujar sahabat Nabi. Berhentilah sejenak, perbaharui iman, bersihkan sepatu yang sudah berdebu, asah kembali pedang yang tumpul, ambil air wudhu cuci wajahmu hingga bisa menatap ke depan lebih jauh lagi.
H : Hasbiyallah wa Ni’mal Wakill Ni’mal Maula Wa Ni’man Nashir
Sungguh kejenuhan itu adalah masalah hati. Dan Maha Penggenggam hati hanyalah Allah semata. Qolbu itu artinya yang berbolak-balik, ketika ia berbalik atau tertutup debu maka cahaya Allah akan terhalang, maka lahirlah kejenuhan. Maka tengadahkan tanganmu padaNya, minta Ia jaga hatimu agar tidak mati karena enggan dan malas.
Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,
yang banyak mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah,
yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,
(Al Quran Al Karim Surah Al Qalam ayat 10 – 12)
Naudzubillahi min dzalik