Einstein Never Used Flash Cards April 3, 2007
Posted by hiperkes95 in Artikel.add a comment
Bermain = Belajar
Informasi buku:
Einstein Never Used Flash Cards : How Our Children Really Learn– And Why They Need to Play More and Memorize Less
by Roberta Michnick Golinkoff (Author), Kathy Hirsh-Pasek (Author), Diane Eyer (Author)
Itu pesan yang disampaikan dalam buku ini yang ditulis oleh tiga peneliti di bidang psikologi perkembangan. Pesan tersebut didukung oleh berbagai penelitian dalam bidang psikologi perkembangan anak selama 40 tahun belakangan. Tetapi meskipun bukti-bukti penelitian menyatakan demikian, pesan tersebut tampaknya tidak sampai kepada kita, orang tua dan pengasuh anak. Buku ini mengingatkan kita bahwa kita terjebak dalam asumsi yang salah sehingga kita membuat anak-anak kita belajar (dalam konteks akademis) lebih awal dan mengurangi waktu bermain mereka, sementara dalam bermainlah anak-anak belajar banyak.
Sebagai orang tua, kita tentu selalu mengkhawatirkan kesejahteraan anak-anak kita. Salah satu yang kita khawatirkan adalah apakah anak kita akan memiliki keunggulan untuk bersaing di dunia yang semakin kompetitif. Akibatnya kita sangat mengedepankan perkembangan otak anak: susu formula yang kita pilih adalah susu yang mengandung semua zat yang membantu pertumbuhan otak bayi; kita membelikan mainan yang merangsang intelejensia anak; musik Mozart dan Bach menjadi menu bagi telinga mereka. Begitu anak-anak kita mulai bicara, sebagian dari kita berlomba-lomba memasukkan anak-anak kita ke kelompok bermain dan taman kanak-kanak yang menawarkan pelajaran musik, program dwi-bahasa, mental aritmatika dan berbagai aktivitas lain. Kita merasa bahwa belajar secara mandiri sebagaimana yang telah dilakukan selama ribuan tahun tidak lagi cukup. Kekhawatiran kita menyebabkan anak-anak kita menjadi “anak-anak yang dibuat tergesa-gesa,” dan mereka pun kehilangan masa kecil.
Telah banyak pakar yang membicarakan masalah di atas, dan para penulis dalam buku ini memberikan penawarnya. Dalam buku ini kita bisa menemukan berbagai bukti ilmiah mengenai perkembangan intelektual dan sosial anak tanpa bumbu-bumbu apa pun dari media massa maupun dari pemasaran industri pendidikan anak sehingga kita bisa lebih mengerti perkembangan anak kita dan mengapa bermain adalah belajar. Dengan berbekal pengetahuan tersebut, kita sebagai orang tua diharapkan dapat lebih percaya diri dalam mendidik generasi mendatang.
Buku ini dibagi dalam sepuluh bab. Setiap bab berisikan bukti-bukti penelitian dan tips-tips bagaimana secara praktis menerapkan berbagai hasil penelitian tersebut dalam keseharian. Penulis membuka dengan mengungkapkan situasi orang tua modern di mana mereka menghadapi situasi yang kompetitif dan mereka berupaya agar anak-anak mereka bisa unggul dengan persiapan sejak dini. Di bab dua, buku ini membahas otak dan perkembangannya, dan membantah mitos-mitos yang berkembang seputar perkembangan otak dan intelejensia anak. Bab-bab selanjutnya menjelaskan perkembangan anak dalam hal kemampuan mengenal kuantitas, bahasa, membaca, intelejensia, dan keterampilan sosial. Dalam dua bab terakhir, penulis menjelaskan mengenai bermain dan pentingnya bermain sebagai sarana belajar, serta rumus-rumus baru bagi kita sebagai orang tua dalam mengasuh anak.
Salah satu kesimpulan penelitan yang disampaikan di bab pertama adalah bahwa hubungan yang responsif dan bersifat mengasuh yang diterima anak dari orang tua dan para pengasuh merupakan hal kunci dalam memperkirakan perkembangan intelektual dan emosional anak. Selain itu sebuah kajian oleh salah seorang penulis terhadap anak-anak yang dimasukkan ke taman kanak-kanak ‘akademis dengan yang dimasukkan ke TK biasa yang mengutamakan bermain menemukan bahwa mereka yang masuk ke TK ‘akademis’ tidak memiliki keunggulan akademis jangka pendek, apalagi jangka panjang, dibandingkan dengan yang masuk ke TK biasa. Perbedaan kemampuan akademis antara kedua kelompok bahkan tak terlihat di kelas satu SD. Tetapi terdapat satu perbedaan antara kedua kelompok. Kelompok pertama terlihat lebih gelisah dan kurang kreatif dibandingkan kelompok kedua. Jadi, anak-anak menjadi korban jika belajar secara akademik dipaksakan sebelum mereka siap.
Bab dua dimulai dengan menjelaskan otak dan sel-sel syaraf sehingga kita mengerti bagaimana mereka bekerja. Menurut penelitian, otak terus berkembang dan berubah selama selama hidup manusia dengan menciptakan sinapsis-sinapsis baru, memperkuat yang perlu, dan sebaliknya menghapus yang tidak perlu. Penghapusan sinapsis (hubungan antara sel-sel syaraf) adalah sesuatu yang penting bagi otak agar bisa membuat keputusan dengan cepat dan tepat. Bahkan sebuah kelainan genetik yang mengakibatkan cacat mental terkait dengan tidak adanya penghapusan sinapsis. Dengan demikian anggapan umum bahwa kita harus melakukan berbagai upaya agar jangan sampai bayi kehilangan banyak sinapsis adalah salah.
Seperti anggapan di atas, mitos mengenai lingkungan yang diperkaya juga tidak memiliki landasan ilmiah. Mitos mengenai lingkungan yang diperkaya akan merangsang pertumbuhan otak bayi adalah interpretasi yang salah atas penelitian yang membandingkan besar otak tikus yang dibesarkan sendiri di kandang sempit dengan yang dibesarkan bersama beberapa tikus lain di kandang besar yang berisi mainan, lorong-lorong, dan perosotan (lingkungan yang diperkaya). Hasil penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa tikus yang memiliki otak paling besar adalah tikus yang dibesarkan di lingkungan alami. Sayangnya hasil yang terakhir ini kurang mendapatkan publikasi yang luas. Seorang peneliti mengungkapkan kekhawatiran bahwa memperkenalkan lingkungan yang diperkaya dan program pelatihan yang ambisius lebih awal kepada anak berpotensi mengurangi kreativitas si anak. Jadi, terlalu banyak belajar lebih awal justru menjadi penghambat dan bukan pendorong bagi perkembangan intelejensia anak.
Kita juga sering mendengar bahwa tiga tahun pertama anak adalah “masa kritis” pertumbuhan otak yang akan menentukan apakah si anak akan menjadi seorang jenius di masa datang, dan selepas tiga tahun kesempatan itu tidak ada lagi. Tetapi anggapan ini juga tidak benar. Sebagai contoh, penelitian mengenai kemampuan berbahasa Inggris terhadap imigran dari Cina atau Spanyol di Amerika menemukan bahwa imigran yang datang waktu Ia lebih muda memiliki kemampuan yang lebih baik, tetapi tidak ada “masa kritis” di mana bahasa asing tidak lagi bisa dipelajari. Terlebih lagi, tidak ada bukti yang menunjukkan pengalaman belajar di masa kecil membantu pertumbuhan otak. Selama anak tumbuh di lingkungan yang normal, dan dikelilingi orang-orang yang menyayangi mereka, otak mereka akan tumbuh sendiri.
Setelah mematahkan anggapan umum mengenai perkembangan otak, buku ini kemudian menjelaskan bagaimana anak-anak mempelajari kuantitas. Bayi diperkirakan telah mengetahui konsep lebih dan kurang. Saat mereka tumbuh, kemampuan mereka berkembang menjadi mengetahui jumlah, dan para usia sekitar lima tahun mereka telah bisa menghitung dan membandingkan jumlah. Dalam hal bahasa, bayi telah mengetahui bahasa ibunya saat mereka masih berusia dua hari, dan saat mereka berusia lima bulan mereka tahu bahwa bahasa terdiri atas kalimat-kalimat. Ketika mereka berusia sekitar 18 bulan dan telah menguasai 50 kata, yang merupakan massa kritis di mana mereka mulai bisa membentuk kalimat dari dua kata. Saat itulah mereka mulai sering bertanya, “apa ini?”, “apa itu?”, dan bayi 18-20 bulan mampu belajar hingga sembilan kata per-hari. Kemampuan berbahasa anak terus berkembang dengan cara menemukan pola-pola di dalam bahasa dan kemudian belajar menggunakannya sendiri.
Kemampuan berbahasa adalah dasar bagi kemampuan membaca anak. Sebelum anak dapat membaca, mereka harus mengembangkan empat kemampuan dasar: kosa kata, bercerita, mengenal fonem, dan mengetahui kode tertulis. Kemampuan mengenal fonem berarti mampu memisahkan bunyi dalam kata, seperti “t” di “topi” dan “k” di “makan.” Berdasarkan penelitian, 17 persen murid taman kanak-kanak dan 70 persen murid kelas satu sekolah dasar mampu memisahkan bunyi dalam kata. Anak harus mampu mengenal kode tertulis sebelum bisa membaca, yakni memisahkan huruf-huruf dari kata, mengetahui bunyi yang dihasilkan huruf-huruf, dan menggabungkan bunyi masing-masing huruf sehingga membentuk kata. Kemampuan membaca lalu diikuti oleh kemampuan menulis yang biasa dimulai pada usia taman kanak-kanak. Saat anak mulai menuliskan kata-kata yang mereka dengar tetapi mereka salah menuliskan ejaan, mereka telah mencapai kemajuan besar yaitu mengerti bagaimana cara kerja kata dalam bahasa.
Anak-anak belajar dari kegiatan mereka sehari-hari. Mereka selalu belajar dengan aktif, dan berusaha mengerti lingkungan mereka. Sesuatu berulang-ulang yang dilakukan anak-anak, yang kadang membuat kita kesal, sering merupakan cara mereka untuk mengerti sesuatu. Kalau kita memperlihatkan kartu-kartu yang bergambar (flash card) dan mengucapkan apa yang tergambar di kartu tersebut, mereka akan membeo. Tetapi kalau kita membiarkan mereka bermain dengan permen mereka akan tertarik dengan kuantitas. Kunci dalam proses belajar mereka adalah belajar dalam konteks.
Buku ini juga menjelaskan perkembangan anak dalam hal mengenal identitas diri, yaitu mengenal tubuh dan mengenal emosi serta bagaimana mengendalikan emosi sendiri. Anak pun mulai bisa mengevaluasi diri sendiri, tetapi kemampuan ini membutuhkan waktu yang lama. Menurut hasil penelitian, hanya 59 persen anak berusia 30 – 40 bulan memberikan respon secara emosional saat mereka berlaku “buruk.”
Dalam perkembangan sosialnya, dijelaskan bahwa anak pertama-tama mulai bisa membedakan antara orang dan barang, kemudian mereka bisa mengetahui emosi orang lain, dan pada tahap akhir mereka bisa menghargai bahwa orang lain berbeda pandangan daripada mereka. Dalam perkembangan tahap kedua, para peneliti melihat bahwa bayi membentuk keterikatan dengan sekelompok orang, dan sifat keterikatan di masa awal kehidupan mereka penting dan dapat memberikan dampak yang besar dalam penyesuaian-penyesuaian emosi dan akademik anak nantinya. Walaupun begitu, hubungan antara keterikatan dan penyesuaian di masa datang hanya terlihat jika si anak terus berada dalam lingkungan yang menyayangi dan mendukungnya.
Sebagai orang tua, yang perlu kita lakukan adalah memberikan dukungan bagi anak-anak untuk berkembang secara sehat. Salah satu dukungan tersebut mungkin telah kita lakukan selama ini, yaitu apa yang disebut sebagai scaffolding di mana kala kita melihat anak kesulitan melakukan sesuatu kita lalu memberikan sedikit bantuan yang membuat mereka dapat melakukan hal tersebut. Misalnya saat anak menyusun puzzle dan ia kesulitan, kita membantu dengan memasangkan satu potong puzzle sehingga ia bisa menyelesaikan puzzle tersebut. Hal lain yang dapat kita lakukan adalah dengan berbicara dengan anak dan membaca buku bagi mereka. Kegiatan ini dapat menambah kosakata (penguasaan kosakata dapat meningkatkan IQ sebesar 15-20 poin), penguasaan bahasa, dan minat baca. Selain itu, jika kita berbicara dengan mereka tentang emosi orang lain, hal ini dapat meningkatkan intelejensia sosial mereka. Misalnya, kita dapat menjelaskan kepada mereka, “Si polan sedih karena mainannya hilang,” atau “Si polan menangis karena tangannya sakit.”
Karena si anak adalah mesin bagi perkembangan mereka sendiri, maka yang sebaiknya dilakukan orang tua adalah menjadi mitra bagi mereka. Kita berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas anak kita, tetapi mereka lah yang memimpin dalam aktivitas-aktivitas tersebut. Kita mengulurkan sedikit bantuan kepada mereka (scaffolding) dan mengarahkan mereka mengenai hal-hal yang menyangkut moral. Di samping itu tentu saja kita harus memberikan pujian kepada mereka.
Pujian adalah senjata yang kuat sekaligus berbahaya. Ada anggapan umum yang salah bahwa memuji intelejensia anak dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam bidang akademik. Anak-anak perlu dipuji atas usaha mereka karena belajar harus dilihat sebagai proses, bukan sebagai pembuktian atas kemampuan mereka. Dengan memuji usaha anak, kita mengajari mereka untuk menilai diri sendiri atas upaya yang mereka kerahkan untuk mencapai sesuatu sehingga mereka tumbuh menjadi manusia yang tidak mudah menyerah.
Setelah kita tahu bagaimana perkembangan anak di berbagai sisi, lantas bagaimana dengan bermain? Bab 9 menjelaskan pentingnya bermain bagi anak. Bukti-bukti penelitian menunjukkan dengan jelas, bermain mendorong perkembangan di berbagai sisi. Para peneliti telah menemukan bahwa bermain terkait dengan kreativitas dan imajinasi yang lebih baik, dan bahkan dengan kemampuan membaca dan skor IQ yang lebih tinggi. Jadi, jelas bahwa BERMAIN = BELAJAR. Terlebih lagi, jika orang dewasa ikut (bukan mengontrol) bermain dengan anak, tingkat permainan mereka meningkat.
Bagaimana mendefinisikan bermain? Menurut para peneliti, bermain memiliki lima unsur. Pertama, bermain harus bisa dinikmati dan menyenangkan. Kedua, bermain tidak boleh memiliki tujuan yang ditentukan. Ketiga, bermain harus spontan dan sukarela, bebas sesuai pilihan yang bermain. Keempat, para pemain harus terlibat aktif. Dan terakhir, bermain mengandung unsur berpura-pura.
Dari kelima unsur tersebut, yang paling sering kita hilangkan adalah unsur kedua. Kita membelikan anak-anak kita mainan yang mengandung unsur pendidikan. Hal ini tidak berarti semua mainan tersebut tidak bagus bagi anak. Yang perlu kita ingat adalah mainan tersebut, bukan si anak, menentukan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Hal serupa terjadi dalam aktivitas-aktivitas yang terorganisir: orang dewasa mengarahkan apa yang harus dilakukan anak. Anak-anak perlu mengarahkan sendiri kegiatan bermain mereka. Dengan begitu, mereka merasa memiliki kekuasaan atas permainan mereka. Ini adalah salah satu fungsi utama bermain.
Menjauhkan anak dari bermain dapat mengarah kepada depresi dan kekerasan. Penelitian pada binatang menunjukkan bahwa tanpa bermain, binatang mengalami penundaan dalam kematangan otak. Penelitian juga membuktikan bahwa memberikan istirahat bermain kepada anak si sekolah memaksimalkan perhatian mereka kepada tugas-tugas sekolah yang melibatkan berpikir.
Semua peneliti sepakat bahwa bermain memberikan dasar yang kuat bagi pertumbuhan intelejensia, kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Bermain juga merupakan alat untuk perkembangan emosi serta pengembangan keterampilan-keterampilan sosial dasar anak. Kita, orang tua, juga mungkin telah mengerti hal ini, tetapi mungkin kita kurang memfasilitasi anak untuk bermain karena kita khawatir bahwa mereka menjadi tidak belajar.
Buku ini memberikan banyak penjelasan tentang bermain dan manfaatnya. Saat anak bermain dengan benda-benda fisik, mereka belajar tentang hubungan antara satu benda dengan benda yang lain. Pengalaman mereka dari memainkan benda-benda tersebut tidak bisa diganti dengan kartu-kartu bergambar, atau bahkan dengan permainan komputer. Kreatifitas mereka diasah dengan bermain bebas dan tak terstruktur. Kemampuan berbahasa mereka berkembang dengan bermain pura-pura. Ketika mereka bermain “masak-masakan” dengan teman-teman, mereka mengembangkan kemampuan sosial mereka. Anak-anak yang berlari ke sana ke mari melatih kemampuan motorik mereka.
Albert Einstein memiliki kepandaian yang luar biasa, bukan karena Ia mengetahui banyak hal, tetapi Ia pemikir yang hebat. Tidak sedikit dari kita yang mengharapkan anak-anak kita memiliki kepandaian seperti Einstein. Waktu ia berusia 6 tahun, ia diikutkan dalam pelajaran musik, tetapi ia tidak pandai-pandai. Tiba-tiba pada umur 13 tahun ia sangat menyenangi Mozart dan pandai bermain biola. Komentar Einstein tentang kemampuan musiknya adalah “Love is a better teacher than a sense of duty.”
Yang dapat kita pelajari dari masa kecil Einstein adalah Ia mengambil jalannya sendiri, dan sebagian besar proses belajarnya terjadi saat Ia bermain. Jadi, kalau ibu Einstein tidak mengajarinya dengan kartu-kartu bergambar, mengapa kita harus melatih (drill) anak-anak kita, mengajarkan mereka membaca sebelum masuk taman kanak-kanak, bahkan mengajari mereka aritmatika sebelum umur tiga tahun? Kita tentu melakukan hal-hal tersebut dengan niat baik, tetapi mungkin kita melakukannya hanya karena kita tidak menerima informasi yang benar.
Buku ini menyebutkan empat mitos yang tak sehat yang menjadi petunjuk bagi kita dalam membesarkan anak:
- Lebih cepat lebih baik
Kita ingin mempercepat perkembangan kognitif dan sosial anak. - Jadikan setiap saat berarti
Jangan sampai ada waktu anak yang terbuang percuma. - Orang tua adalah serba bisa
Kita menganggap bahwa hanya kita yang bertanggung jawab atas perkembangan anak. - Anak adalah gelas kosong
Anak-anak hanya menunggu untuk diisi.
Kita perlu melepaskan diri dari asumsi-asumsi tersebut, lalu mendidik anak-anak kita menggunakan empat prinsip berikut:
- Belajar yang paling baik adalah belajar yang berada dalam jangkauan anak
Anak perlu keluarga, teman, dan guru mereka untuk melampaui kemampuan alami mereka. - Menekankan proses di atas hasil menciptakan kecintaan terhadap belajar
Kita perlu memperhatikan bagaimana mereka belajar selain apa yang mereka pelajari. - EQ, bukan hanya IQ
Anak yang lebih banyak bermain cenderung lebih bahagia, dan mereka cenderung memiliki hubungan lebih baik dengan teman-teman mereka, dan kemudian lebih aktif di sekolah. EQ dan IQ berkembang melalui bermain. - Belajar dalam konteks adalah belajar yang sebenarnya – dan bermain adalah guru terbaik.
Dengan segala pengetahuan yang kita peroleh dari penelitian-penellitian tentang perkembangan anak, yang paling penting bagi kita orang tua adalah menciptakan keseimbangan. Keseimbangan antara bermain bebas dan aktivitas yang diorganisasikan orang dewasa. Dengan kesadaran seperti ini, kita orang tua dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita.
Sebagai penutup, buku ini memberikan tiga kunci, yaitu 3 R, untuk mencapai keseimbangan tersebut:
- Reflect
Tanyakan diri kita saat kita mendaftarkan anak kita ke suatu aktivitas yang terstruktur, apakah kita melakukannya karena keempat mitos salah yang disinggung di atas. - Resist
Tolak dorongan yang mengatakan bahwa lebih cepat adalah lebih baik. - Re-center
Fokus kembali kepada empat prinsip di atas yang memiliki landasan ilmiah.
Bukti-bukti ilmiah yang ada di dalam buku ini membuat kita orang tua bisa merasa lebih tenang dalam membesarkan putra-putri kita karena kita mengetahui bahwa bermain memberi manfaat yang banyak bagi perkembangan anak. Buku ini berisi banyak sekali tips-tips praktis untuk membantu anak kita mengembangkan diri mereka secara sehat. Sayang sekali untuk melewatkan buku ini. Selamat membaca!
RUMAH KITA Maret 8, 2007
Posted by hiperkes95 in Artikel.add a comment
RUMAH KITA
(SUDAHKAH MENJADI HOME ATAU SEKEDAR HOUSE?)
“Selamat datang di kawasan hunian yang bervisi Baiti Jannati dengan
misi Rahmatan Lil’alamin. Dibangun berdasarkan konsep minimalis
dengan mengutamakan azaz-azaz efisiensi dan efektivitas serta
pengoptimalisasian setiap sudut ruangan yang mencerminkan
kesederhanaan dan kebersahajaan hidup penghuninya. “
Untaian kalimat di atas sepintas memang seperti promo dari sebuah
developer hunian tapi bukan. Itu adalah sebuah refleksi saya
terhadap rumah idaman saya di dunia, mungkin juga idaman sebagian
orang yang mengutamakan esensi dan kesederhanaan. Sebuah rumah
idaman yang tidak hanya sekedar house tapi juga home bagi
penguhuninya.
Memang home dan house artinya sama-sama rumah. Namun berbeda
peruntukannya dalam kalimat. Misalnya antara broken house dan broken
home. Kalau broken house bangunan rumahnya yang rusak. Tapi kalau
broken home, bisa jadi bangunan rumahnya tidak rusak, namun telah
hilang perasaan cinta dan rindu antara penghuni rumah. Yang ada
hanya kekakuan yang diselingi pertengkaran yang kemudian
menghadirkan rasa sakit hati, benci, bahkan dendam. Itulah dia,
rumah tangga yang hancur alias keluarga berantakan.
Jadi dapat dikatakan bahwa home lebih kepada suasana kejiwaan dan
atmosfir yang terbangun dalam suatu rumah, tempat atau bangunan
lainnya. Sehingga dapat dimaknakan home sebagai suatu tempat yang
menawarkan rasa nyaman dan betah. Dengan demikian, di mana pun
tempat kita beraktivitas, apakah itu di kantor kita, toko kita,
ruang kelas kita, semuanya sebenarnya dapat kita `sulap’ menjadi
home. Sehingga kita dan orang-orang yang juga beraktivitas di sana
atau sekedar mampir, merasa nyaman dan betah. Dan, tentunya tempat
paling utama yang harus kita jadikan home adalah rumah kita.
Sehingga setiap penghuni rumah senantiasa rindu pulang. Terpatri
pada diri mereka semboyan “No Place Like Home” (tidak ada tempat
seperti (senyaman) di rumah. Atau yang lebih indah lagi, dengan
ungkapan Baiti Jannati, rumahku syurgaku. Bagaimana tidak, indahnya
jannah yang setiap orang rindu dan ingin pulang ke sana. Begitu juga
bila rumah yang telah jadi menjadi `syurga’ dunia bagi penghuninya.
Tentu selalu dirindu dan kalau sudah pergi ke tempat lain rasanya
ingin cepat pulang untuk melepas segenap kepenatan dan melupakan
segala kepedihan di luar sana.
Ukuran besar kecil rumah atau megah tidaknya rumah, sangatlah
relatif. Yang utama adalah atmosfir yang menyelubungi rumah
tersebut. Ada yang rumahnya white house bak istana tapi serasa
neraka bagi penghuninya sehingga mereka mencari home-home lain di
luar. Ada juga yang rumahnya KPR BTN RSS (Kredit Pemilikan Rumah
Bangunannya Tidak Normal Rasanya Sempit Sekali), namun jannah bagi
mereka. Tentu setiap orang mengidamkan rumah kalau bisa kombinasi
antara bangunan yang baik dengan suasana psikologis dan atmosfir
yang menyenangkan.
Rumah yang home bukanlah hotel yang meskipun nyaman tapi hanya untuk
sekedar menginap. Juga bukanlah yang ruang makannya laksana restoran
yang meskipun kursi makan dan menunya istimewa, namun hanya
menawarkan suasana kaku dan formil, kering dari cinta, sepi dari
canda, jauh dari pembelajaran dan kosong dari nasehat. Kata anak-
anak pengajian, “Kagak ada ruhnya!”. Rumah yang home adalah rumah
yang akan selalu menjadikan penghuninya dari waktu ke waktu semakin
sholeh, cerdas, berakhlakul karimah dan semakin kuat rasa cinta dan
rindu di antara mereka.
Saya berusaha memikirkan cirri-ciri home yang saya idamkan. Mungkin
ini akan memberkan inspirasi bagi Anda, atau mungkin Anda sudah
meraihnya, dan bahkan sudah melebihi yang saya pikirkan. Selamat,
ya! Do’akan saya segera menyusul.
Kira-kira poin-poin berikut inilah yang ingin saya hadirkan di home
idaman saya :
1. Tumbuh dan berkembangnya aktivitas ibadah.
Hal ini dapat dilihat dari ketaatan penghuni rimah akan perintah
Allah dan hidupnya sunnah-sunnah Rasulullah.
2. Tumbuh dan berkembangnya aktivitas keilmuan.
Hal ini dapat ditandai dengan tersedianya sarana-sarana penunjang
ilmu dan pengetahuan. Seperti adanya ruangan yang cukup
representatif untuk diadakannya pengajian. Di satu pojoknya ada mini
home library atau little book corner yang menyimpan berbagai koleksi
buku, surat kabar, jurnal, majalah, kliping, atau artikel penting.
Tersedianya sarana bermain anak yang edukatif. Tak kalah pentingnya
adalah seperti home theatre yang mengoleksi berbagai CD dan VCD ilmu
pengetahuan yang bermanfaat bagi seisi rumah. Terutama bagi putra-
putri kita yang sedang berada dalam masa `the golden ages’
mengingat sebagian besar acara TV yang semakin membuat resah orang
beriman. Dan kalau memungkinkan, ada perangkat komputer yang connect
ke internet agar memperoleh informasi yang luas dan cepat.
3. Terpatrinya perilaku hidup bersih, rapi dan berdisiplin pada
diri setiap penghuni rumah.
Bila ada najis segera dibersihkan, tidak ada saluran yang mampet,
kotoran yang mengendap atau bau yang tidak sedap. Barang-barang yang
berserakan dan ruangan yang berantakan segera dirapikan. Seluruh
anggota keluarga berdisiplin dan bertanggungjawab melaksanakan tugas
yang menjadi bagiannya.
4. Adanya perhatian yang besar terhadap kesehatan.
Terwujud dari penyusunan menu makanan yang halal, baik dan seimbang
zat gizinya. Serta adanya jadwal untuk berolahraga. Dan diupayakan
penyisihan dana untuk check up kesehatan.
5. Melekatnya sikap sederhana dan bersahaja.
Baik dalam makanan, minum, berpakaian, perkataan, dan gaya hidup,
serta terbangunnya azaz-azaz efisiensi, efektivitas, optimalisasi
dan kemampuan menyusun skala prioritas kehidupan.
6. Orang tua, terutama Ayah, sang kepala keluarga mengayomi dan
melindungi keluarga.
Yang tercermin dari kegigihannya mencari nafkah yang halal. Bersama
ibu berusaha menciptakan controlling system yang bekerja efektif
agar putra-putri terlindungi dan jauh dari perilaku-perilaku
menyimpang dan membahayakan aqidah, fisik, dan mental. Seperti
pergaulan bebas, narkoba, bid’ah dholalah, fenomena homo/
transseksual (gay/ lesbi/ waria), dan lain-lain.
7. Terbinanya suasana demokratis.
Setiap anggota keluarga dapat mengekspresikan perasaan dan
pendapatnya. Berkembangnya iklim tausiyah. Tiada acara kumpul-kumpul
keluarga melainkan senantiasa disisipi taujih.
8. Seisi rumah memiliki sensitivitas terhadap lingkungan
sekitar.
Senantiasa menjalin dan menjaga silaturrahim dengan tetangga. Selalu
terpanggil untuk bergabung dalam kegiatan-kegiatan sosial
kemasyarakatan dan fardhu kifayah. Ayah dan anak laki-laki selalu
shalat di mesjid. Serta memiliki perhatian terhadap lestarinya
ekosistem.
Demikianlah cirri-ciri home yang saya idamkan. Mudah-mudahan rumah
Anda sudah menjadi home ataupun jannah bagi Anda dan keluarga.
Sehingga Anda senantiasa merindukannya dan selalu ingin pulang.
Tidak ada lagi keinginan untuk berlama-lama di warung kopi atau
kafe. Enyahlah sudah ungkapan “Gue sebel di rumah” dari anak remaja
kita.
Bila setiap keluarga yang merupakan unit termungil pembentuk negara
dan pembangun peradaban ini, telah menemukan home ataupun jannahnya.
Dan telah berhasil menjadikan penghuninya dari waktu ke waktu
semakin sholeh, solid, cerdas, dan berakhlak karimah. Maka insya
Allah akan tercapailah seperti yang tercantum dalam QS 34:15,
Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Amin.
Oleh : Marina Lidya S. Pd
Belajar Mencintai Maret 2, 2007
Posted by hiperkes95 in Artikel.add a comment
Mari Kita Belajar Mencintai
Jika cinta, pada semua jenisnya, adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita. Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kapasitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian kuat dan kapasitas besar yang mampu mencintai. Orang-orang yang lemah, yang setiap saat bisa kita saksikan di sekitar kita, tidak akan pernah mencintai. Bahkan untuk mencintai diri mereka sekalipun. Takdir mereka adalah menantikan cinta dan kasih sayang orang-orang kuat.
Orang-orang kuat mencintai dengan segenap kesadarannya. Maka mereka terus menerus memproduksi kebajikan demi kebajikan. Sementara orang-orang lemah bahkan tidak memiliki kesadaran untuk mencintai. Maka mereka terus-menerus mengkonsumsi kebajikan orang-orang kuat. Itu sebabnya orang-orang kuat dalam masyarakat selalu merupakan faktor kohesi yang merekatkan masyarakat. Mereka merekatkan masyarakat dengan cinta dan kebajikan mereka.
Makna inilah yang ditebarkan oleh Rasulullah saw begitu beliau tiba di Madinah dan memulai kerja membangun Negara baru itu: “Wahai sekalian manusia, tebarkan salam, berikan makan, bangun sholat malam saat orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh damai.”
Ini merupakan penjelasan bagi keterangan selanjutnya. Bahwa untuk bisa mencintai, bahwa untuk menjadi pecinta sejati, kita harus mengembangkan kapasitas dan kepribadian kita untuk menjadi lebih baik secara berkesinambungan, pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang produktif untuk bisa memberi, pelajaran tentang bagaimana menjadi orang kuat yang penyayang, pelajaran tentang bagaimana melimpahruahkan kebajikan abadi bagi penumbuhan kehidupan orang-orang di sekitar kita yang kadang berujung tanpa sedikitpun rasa terima kasih, atau bahkan penolakan.
Ini bukan pelajaran tentang teknik atau keterampilan mencintai seperti ketika belajar tentang teknik berkomunikasi dengan orang lain, atau bagaimana merebut hati seseorang untuk suatu hubungan cinta asmara. Bukan. Sama sekali bukan tentang itu.
Ini adalah pelajaran tentang bagaimana membangun kembali dasar-dasar kepribadian yang kokoh dan tangguh, yang memungkinkan kita mencintai secara sadar, bertanggungjawab dan bertindak produktif untuk membuktikan cinta itu dalam kenyatan. Dan dengan begitu, cinta bukan saja berefek pada perbaikan berkesinambungan terhadap hubungan-hubungan kemanusiaan kita, tapi juga terutama pada perbaikan kehidupan kita seluruhnya secara berkesinambungan.
Dan ini mungkin dan terbuka. Semua kita bisa mempelajarinya. Alasannya sangat sederhana.
Rasulullah saw bersabda: “Ilmu diperoleh dengan belajar. Kesabaran diperoleh dengan belajar menjadi sabar. Kesantunan diperoleh dengan belajar menjadi santun.”
Ini menjelasakan bahwa di samping karakter-karakter bawaan yang melekat dalam diri kita sebagai warisan genetic, semua karakter lain bisa kita peroleh dengan mempelajari dan mengimplementasikan nya dalam kehidupan kita.
Begitu juga cinta. Begitu juga cinta. Semua kita bisa mencintai. Semua kita mungkin menjadi pecinta sejati. Asal kita mau belajar. Asal kita mau belajar bagaimana mencintai.
Sumber : Anis Matta, Lc
Mengenali Ragam Sifat Si Kecil Februari 28, 2007
Posted by hiperkes95 in Artikel.add a comment
![]()
MENGENALI RAGAM SIFAT SI KECIL
Kata orang, setiap anak membawa sifat masing-masing. Kata-kata ini sepertinya tak terlalu salah. Banyak memang sifat-sifat anak yang sebaiknya diketahui para orang tua. Dengan begitu, orang tua juga bisa mencari cara menghadapi anak-anak mereka.
“Pokoknya ke mal!” teriak Echa pada Wulan, sang Mama. Melihat sifat Echa yang keras kepala, Wulan hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus dada. Wulan tahu persis, putrinya yang 10 tahun ini sejak kecil memang keras sifatnya. Semua keinginannya harus dituruti. Jika tidak, ia bakal menjerit-jerit, berguling-guling di lantai. Bila sudah begitu, mau tak mau, Wulan pun akan menuruti keinginan putri tunggalnya itu. Sesekali, Wulan memang risau, sampai kapan ia harus bersikap demikian, selalu menuruti kemauan Echa? Pasalnya, seringkali keinginan Echa bukan sesuatu yang biasa.
Ada banyak sifat-sifat anak. Selain keras kepala seperti Echa, ada banyak lagi sifat anak yang perlu diketahui para orang tua.
1. EGOIS
Sifat egois atau keras kepala seperti Echa di atas seringkali memang membuat orang tua kehilangan kesabaran. Umumnya, anak yang egois mau menang sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain dan harus dituruti semua keinginannya. Bila tidak, segala jurus ancaman pun akan ia lontarkan, dari mogok makan, tak mau belajar sampai berguling-guling di lantai.
Yang harus dilakukan:
Jangan panik bila menghadapi anak yang egois. Tak perlu marah, hadapi dengan lembut dan sabar. Banyak cara bisa dilakukan untuk menghadapi anak bertemperamen keras. Yang terpenting adalah memberikan pengertian dan pengarahan. Ingat, umumnya anak-anak belum dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Yang ada dalam pikiran mereka adalah mengerjakan atau melakukan sesuatu hanya untuk kesenangannya. Jadi, tugas Anda sebagai orang tua adalah memberikan pengarahan dan pengertian pada si anak.
2. PERAJUK
Ciri anak perajuk adalah suka ngambek dan cenderung cengeng. Hampir sama dengan anak egois, hanya saja anak perajuk belum tentu keras kepala. Biasanya, anak akan ngambek bila orang tua kurang memberikan perhatian padanya. Misalnya, “Ma, rambut Ella bagus enggak dikuncir seperti ini?” Karena sang mama tidak memberikan komentar dan hanya menggangguk, anak pun ngambek.
Yang harus dilakukan:
Sama seperti menghadapi anak egois, menghadapi anak yang hobi ngambek juga butuh kesabaran. Jika tidak, emosi Anda sebagai orang tua bisa terpancing. Mungkin bagi kita, menggangguk saja sudah cukup, namun bagi anak lain lagi. Ia perlu action dari Anda. Anda bisa mengatakan misalnya, “Oh, bagus sekali. Coba Mama lihat kuncirnya. Hmm… ternyata anak Mama sudah pintar menguncir rambut sendiri!” Perhatian dan komentar Anda akan membuat anak senang.
Bila anak gampang merajuk, cobalah untuk membujuknya. Jangan dengan kekerasan, karena hal itu justru akan berdampak tak baik bagi perkembangan jiwanya.
3. PEMALAS
Sifat anak yang pemalas biasanya tidak mau mengerjakan pekerjaan atau tugas yang diberikan padanya. Misalnya, merapikan tempat tidur, buku pelajaran atau mainannya. Ia mengandalkan orang lain untuk mengerjakannya.
Yang harus dilakukan:
Beri anak pengertian dan contoh. Misalnya, setelah bangun tidur, tempat tidur harus dirapikan. Ajak ia untuk turut serta melakukan kegiatan tersebut. Walaupun mungkin di rumah ada pembantu, berikan pengertian pada anak bahwa tidak selamanya ada “si mbak” yang bisa membantunya.
Latih anak-anak untuk memiliki tanggungjawab sejak dini. Bukan pekerjaan berat, cukup yang ringan saja. Seperti merapikan tempat tidur, mainan ataupun rak buku pelajaran.
4. NAKAL
Anak yang nakal atau bandel wajar dimiliki oleh anak-anak. Biasanya mereka cenderung aktif, usil dan tak takut bahaya. Selain itu, anak umumnya juga punya banyak akal. Contoh perilaku mereka antara lain hobi berkelahi, mengejar layang-layang, memanjat pohon tinggi, jahil pada temannya, dan sebagainya.
Yang harus dilakukan:
Tak perlu memarahi atau melarangnya bermain. Coba pantau kegiatannya sehari-hari. Sejauh yang dilakukannya tidak membahayakan dirinya dan orang lain, kenapa harus dilarang? Biarkan mereka melakukannya karena hal itu akan menjawab rasa penasarannya.
Lain hal jika yang dilakukan anak membahayakan dirinya dan orang lain. Tak ada salahnya menegur dan memberi pengertian pada anak. Yang terpenting dalam menghadapi anak nakal adalah jangan bosan menasihati dan membimbingnya. Arahkan anak agar menjadi anak yang baik dan sopan.
5. PENDENDAM
Ciri anak pendendam adalah “hobi: menyimpan rasa sakit hati dan berusaha membalasnya di kemudian hari. “Awas, besok kubalas kamu!” begitu biasanya mereka mengancam “lawan” mereka. Biasanya, anak baru merasa puas bila sudah dapat membalas rasa sakit hatinya.
Yang harus dilakukan:
Yang utama, jangan biarkan sifat pendendam bersarang dalam diri anak-anak. Pasalnya, sifat ini bisa merusak mental mereka. Anak akan berpikir bahwa apa yang dilakukannya benar. Berikan pengertian pada anak bahwa “sifat mendendam” itu tidak baik. Selain dilarang agama, nantinya juga akan membuat mereka dijauhi oleh teman-teman mereka. Tanamkan pada diri anak bahwa tidak selamanya kejahatan harus dibalas dengan kejahatan.
6. PEMBERONTAK
Hampir mirip dengan anak yang keras kepala. Umumnya anak yang memiliki sifat pemberontak susah diatur, kemauannya besar dan merasa dirinya selalu benar. Dan yang lebih sering terjadi, mereka tidak peduli dengan omongan orang lain.
Pendekatan diri adalah jalan terbaik menghadapi anak pemberontak atau suka membangkang. Sebagai orang tua, Anda harus pandai meredam emosi. Bila tidak, Anda sendirilah yang nantinya kewalahan. Berbicaralah dari hati ke hati. Tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Bila hal yang diinginkannya tidak memberikan manfaat dan cenderung menghancurkan, dengan tegas katakan, “Tidak!”
“Mama melarang kamu pergi karena tak ada pergi ke sana.” Kemukakan juga apa alasan Anda melarang dirinya. Yang harus diingat, jangan bersikap kasar atau terlampau keras pada anak. Bersikap lembut dan penuh kasih sayang akan sangat membantu. Karena dengan begitu, anak merasa Anda menegur atau melarang dirinya bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang Anda padanya.
7. PEMALU
Menutup diri, tak banyak bicara, itulah sebagian ciri-ciri dari anak pemalu. Seorang anak pemalu jarang sekali memulai pembicaraan sebelum diajak berbicara oleh orang lain. Pribadinya sangat tertutup, sehingga sulit menebak isi hatinya. Selain itu, anak pemalu juga terkesan kuper alias kurang pergaulan. Mereka juga akhirnya jarang bergaul dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.
Yang harus dilakukan:
Cara tepat menghadapi anak pemalu adalah melatih dirinya agar berani tampil dan berbicara di depan umum. Misalkan dengan mengikutsertakan dalam kegiatan sekolah, seperti tari, karate ataupun vokal grup. Engan begitu, mereka akan terbiasa berhadapan dengan orang banyak. Hal ini akan membantu anak untuk berinteraksi dan mengemukakan pendapatnya. Ini juga akan membuat ruang lingkup pergaulannya menjadi luas. Dengan demikian, diharapkan anak tak lagi menjadi pribadi yang tertutup.
8. PERIANG
Lincah, ramah dan senang bergaul merupakan ciri-ciri anak yang periang. Umumnya, anak periang memiliki banyak teman, karena kepribadian mereka yang hangat. Mereka memang senang bersahabat. Jarang sekali murung dan selalu bergembira.
Yang harus dilakukan:
Meski sifat periang lebih banyak memberikan nilai positif dalam kehidupan sehari-hari, Anda perlu mengingatkan anak agar dapat menempatkan diri kapan harus gembira dan kapan turut merasakan duka orang lain. Beritahu, bila ada temannya yang sedang bersedih, sebaiknya ia jangan bergembira. Jadi, pintar-pintarlah menempatkan diri.
Perjuangan Cinta Februari 23, 2007
Posted by hiperkes95 in Artikel.add a comment
| Perjuangan Cinta | ![]() |
![]() |
![]() |
| Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak: ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.
Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!” Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu. |
*Tips 140: Rahasia Kebahagiaan Anda * Februari 23, 2007
Posted by hiperkes95 in Artikel.1 comment so far
*”Jika Anda ingin tetap nyaman, Anda akan cenderung tetap diam. Percayalah,
Anda tidak akan mendapatkannya. ” *
*Tips 140: Rahasia Kebahagiaan Anda *
*TIDAK BAHAGIA ADALAH TANDA PERLUNYA PERUBAHAN *
Ya. Jika Anda merasa kurang atau tidak berbahagia, ketahuilah: itu adalah
tanda bahwa Anda memerlukan perubahan. Dan perubahan, selalu punya teman.
Namanya pilihan. Dengan demikian, Anda tidak akan bisa lebih berbahagia,
jika Anda tidak berubah. Anda juga tidak akan bisa berubah, jika Anda tidak
segera menjatuhkan pilihan.
*PILIHAN UTAMA ANDA ADALAH MENERIMA*
Pilihan utama Anda, adalah menerima segala sesuatu dengan *ikhlas* dan apa
adanya, dan menerima *tanggung jawab* untuk merubahnya. Setiap pilihan Anda
ada konsekuensinya. Dan biasanya, pilihan itu adalah antara kebebasan atau
perbudakan. Antara hidup dengan mimpi-mimpi indah, atau hidup di dalam mimpi
buruk.
*BAHAGIA TERCIPTA DENGAN MERUBAH DIRI SENDIRI*
Apa yang harus diubah untuk menciptakan rasa bahagia? Anda tidak perlu
jauh-jauh mencarinya. Apa yang perlu diubah adalah diri Anda sendiri.
Jika Anda tidak berbahagia dengan penghasilan yang Anda terima saat ini,
maka daripada mengeluh tentang pelitnya boss Anda atau perusahaan Anda,
mendingan Anda merubah diri Anda. Jadikanlah diri Anda lebih “berharga”, dan
dengannya lebih berhak atau penghasilan yang lebih besar. Banyak yang bisa
Anda lakukan untuk itu. Misalnya bersekolah lagi, mengambil berbagai kursus
dan mengikuti macam-macam seminar, belajar teknologi dan teknik baru,
membuka bisnis sendiri, dan sebagainya. Atau, Anda cukup menjadi lebih
produktif di tempat kerja, dan berupaya menjadi bagian dari solusi yang
dibutuhkan oleh boss atau perusahaan Anda.
Untuk sesuatu yang Anda minta lebih, Anda harus bekerja lebih.
Untuk sesuatu yang Anda ingin ekstra, Anda harus bekerja ekstra.
There is no gain, if there is no pain.
If You want to eliminate the debt, You can not have it without the sweat.
Begitu pula, untuk apapun yang menjadikan Anda kurang atau tidak berbahagia
selain dari penghasilan Anda. Begitu pula, untuk apa saja. Begitu pula,
untuk apapun yang Anda minta dari-Nya.
*SEGALA SESUATU PUNYA HARGA*
Harga itu diformulasikan dalam bentuk upaya dan usaha, perjuangan dan
pengorbanan. Makin besar hadiah yang Anda minta, makin mahal harganya. Makin
besar hasil yang Anda kira, makin besar usaha dan upayanya. Dan itu, setara
dengan perngorbanan dan perjuangan Anda. Jika Anda berupaya dan bekerja
mengejar impian Anda, maka Anda tak akan pernah menyesalinya.
*KEBAHAGIAAN ANDA BUKANLAH KEAJAIBAN*
Kebahagiaan Anda adalah hasil karya. Andalah pembuatnya. Hal terburuk yang
biasa terjadi pada setiap orang, adalah saat ia mulai mencari jalan pintas
yang tidak pantas. Mengandalkan magic bullet, quick fix, atau miracle cure.
Atau, mendatangi para dukun dan orang pintar. Itu tidak cukup lengkap dan
malah membuat Anda makin terjerembab.
*MULAILAH DENGAN KEMAUAN DAN KOMITMEN*
Berhentilah membuat pertanyaan yang membuat keraguan. Berhentilah mencari
alasan.
Jangan pilih ini:
*”Saya merasa susah dan Saya ingin hidup Saya berubah.”*
Tapi pilihlah ini:
*”Saya ingin berubah.” *
*HIDUP ANDA* tidak akan berubah jika *ANDA*-nya tidak berubah.
Membaca tips ini saja, tidak akan menciptakan perubahan apa-apa.
Melakukannyalah yang membuat Anda bisa mencapainya.
*JANGAN MENYERAH PADA APA YANG ANDA BELUM TAHU*
Pernah mendengar kisah ini? Seseorang yang bersekolah ke Jepang untuk
mengambil S3 di bidang ekonomi. Ia asli Indonesia, dan tidak mengerti sama
sekali bahasa Jepang atau huruf kanji. Di Jepang sana, ia menyambi bekerja
di sebuah restoran. Menjadi pelayan dengan hanya tahu bahasa Tarzan. Selain
itu, ia juga mencoba-coba menjadi translator yang menterjemahkan berbagai
dokumen berbahasa Jepang ke dalam Bahasa Indonesia. Sepulang dari sana,
karirnya melejit sebagai jebolan S3. *PLUS*, ia juga berhasil membuka
restoran sendiri di tanah air. Restoran tempura dan sukiyaki. *PLUS*, ia
juga berhasil membuka sebuah kursus bahasa Jepang untuk anak-anak negeri.
Maka, jika Anda punya bisnis sendiri, kemudian ingin berjualan lewat
internet, pikirkanlah yang satu ini. Janganlah Anda terlalu bergantung pada
orang lain. Buatlah blog sendiri. Kerjakan situs Anda sendiri. Anda tidak
akan pernah menduga, siapa tahu Anda juga berbakat menjadi pakar internet
marketer, atau punya usaha web hosting, menjadi konsultan SEO (search engine
optimisation) , menjadi selebriti blog, atau bahkan menjadi penulis buku best
seller berdasarkan pengalaman bisnis Anda sendiri. Sebagai pebisnis, Anda
pasti hanya tahu satu hal, yaitu bahwa semua itu adalah MUNGKIN!
Dengan tidak langsung menyerah pada apa-apa yang Anda tidak tahu mulanya,
penghasilan Anda mungkin akan berlipat ganda. Lihatlah apa yang dilakukan
Andrie Wongso dan Tung Desem Waringin. Lihatlah Cak Bukhin. Dan Anda tahu
bahwa semuanya memang mungkin. Jika Anda mau merelakan melonggarnya keamanan
dan kenyamanan, Anda akan mendapatkan lebih banyak untuk keduanya.
Ya. Segala perubahan ada harganya. Tapi ingatlah yang satu ini: harga paling
mahal yang harus Anda bayar, adalah jika Anda tidak merubah apa-apa.
*RISIKO TERTINGGI ANDA ADALAH MENGHINDARI RISIKO*
Risiko itu adalah hilangnya kesempatan untuk mendapatkan lebih. Jika Anda
ingin tetap nyaman, maka Anda cenderung ingin tetap diam. Padahal, matahari
masih terbit setiap pagi. Dan saat petang, ia juga masih tetap tenggelam.
Penanggalan berubah, dan waktu masih berjalan. Hanya itulah yang Anda punya.
Apa yang perlu Anda lakukan, adalah mengikutinya. Mengikutinya dengan
berbagai perubahan, perencanaan, penyesuaian dan pengejaran.
*PERUBAHAN ADALAH ALAMIAH BAGI ANDA*
Jika hari mulai pagi, Anda mulai mencari rizki. Jika petang telah datang,
Anda pun bersiap untuk pulang. Jika hari hujan, Anda menepi atau menggunakan
payung. Jika jalan yang Anda lewati sedang banjir, Anda memutar dan mencari
jalan lain. Tidakkah itu hanya punya satu terjemah? Bahwa Anda adalah
manusia yang secara alamiah terus berubah!
Lantas mengapakah lagi, Anda masih saja terus membaca-baca tips ini?
Do something! Mulailah perjuangan dan pengorbanan Anda! Dan dapatkan apa
yang lebih berharga.


