Katri Februari 19, 2008
Posted by hiperkes95 in Data Konco2.add a comment
|
Nama |
: |
KATRI HARYONO |
|
Nama Istri |
: |
NIKEN SARI DEWI (5-5-1979) |
|
Nama Anak |
: |
MOH. FAIZ ROKHAN (8-8-2006) |
|
Alamat Kantor |
: |
PT. Century Dinamik Drilling Jl. Jend. Sudirman Chaze Plaza Building Lantai 14 Jakarta |
|
Alamat Rumah |
: |
Jl. Pajajaran Utara IV No. 36 Solo |
|
|
|
|
|
|
|
|
Sanksi Terhadap Pelanggar K3 Diperberat Februari 19, 2008
Posted by hiperkes95 in K3.add a comment
Sanksi Terhadap Pelanggar K3 Diperberat
JAKARTA: Pemerintah menargetkan dapat menyusun draf revisi UU No. 1/1970 mengenai Keselamatan dan Kecelakaan Kerja (K3) pada awal tahun depan, salah satunya mencakup perubahan terhadap sanksi pidana menjadi lebih berat dari ketentuan yang berlaku saat ini.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno mengatakan saat ini pihaknya masih melakukan kajian akademis terhadap perubahan UU tersebut dengan menyertakan berbagai pihak akademisi perguruan tinggi.
Tinjauan akademis yang dimulai sejak November 2007 tersebut dijadwalkan akan rampung pada akhir tahun ini.
“Ketentuan sanksi pidana dalam UU No. 1/1970 tentang K3 sudah tidak relevan lagi. Masa nyawa orang dihargai Rp100.000,-. Tentu akan kami revisi,” kata Erman di sela-sela ekspedisi mendadak (sidak) penerapan K3 di gedung Menara Jamsostek, Grand Indonesia, dan proyek apartemen St. Regis, pekan ini.
Dalam kesempatan tersebut, Erman juga didampingi oleh Walikota Jakarta Selatan, Walikota Jakarta Pusat, dan jajaran petinggi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) .
Menurut ketentuan pasal 15 UU No. 1/1970, pemerintah memberikan ancaman pidana atas pelanggaran peraturan K3 dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda setinggi-tingginya Rp100.000.
Perdebatan mengenai revisi UU tersebut muncul sejak 2004. Ketika itu, Organisasi Buruh Dunia (ILO) dalam Kertas Kerja bertajuk K3 di Indonesia mengusulkan agar UU itu disesuaikan dengan perkembangan terakhir sehingga menjadi UU K3 yang dengan lebih jelas mencerminkan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Konvensi ILO No. 155/1980 tentang K3.
Dari sisi pemerintah sendiri, kesediaan untuk merevisi muncul sejak awal tahun lalu. Menurut Erman pada waktu itu, pihaknya akan mengkaji perubahan sanksi melalui PP atau amendemen UU tersebut.
Paradigma berubah
Azhar Usman, Direktur Pengawasan Norma K3 Depnakertrans, mengatakan ketentuan-ketentuan lain selain sanksi yang tercantum dalam peraturan tersebut kemungkinan juga akan mengalami perubahan.
Terkait dengan sejauh mana perubahan tersebut dan bagian mana yang akan mengalami perubahan, Depnakertrans masih mengumpulkan berbagai masukan dari berbagai pihak, terutama dari kalangan akademisi yang melakukan kajian akademis terhadap revisi UU itu.
Dari pihak Depnakertrans, lanjutnya, format isi UU setelah direvisi tersebut diharapkan akan memiliki paradigma yang berbeda sama sekali dari yang ada saat ini. Dalam UU No. 1/1970, didalamnya mengandung pasal-pasal yang isinya mengedepankan unsur pembinaan dan sosialisasi.
“Namun untuk revisi nanti kami akan seimbangkan antara pembinaan dengan penegakan hukum (law enforcement) . Kami juga setuju kalau ketentuan mengenai sanksi itu dirubah,” ujarnya.
Menurut Azhar, landasan hukum untuk penerapan K3 sebenarnya sudah memadai.
Selain UU No. 1/1970, untuk mendukung terselenggaranya perlindungan tenaga kerja khususnya dalam pelaksanaan K3, pemerintah juga memiliki landasan hukum seperti UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, dan UU No. 21/ 2003 tentang pengesahan ILO Convention No. 81 Concerning Labor Inspection in Industry and Commerce. (02)
dari:epraset2@fmi.com
Bangkit Harjanti Juli 25, 2007
Posted by hiperkes95 in Data Konco2.add a comment
|
Nama |
: |
BANGKIT HARJANTI |
|
Nama suami |
: |
M. ANDI SETIAWAN |
|
Nama anak |
: |
M. HATTA KEITARO (19 Agustus 2005) ARYANDHITO DWI HADYAN (1 Agustus 2007) |
|
Alamat rumah |
: |
Batang No HP : 085642680548 |
|
Alamat kantor |
: |
- |
|
|
|
|
Anita Yuliana Juli 12, 2007
Posted by hiperkes95 in Data Konco2.add a comment
|
Nama |
: |
ANITA YULIANA |
|
Nama suami |
: |
IWAN PRIYONO |
|
Nama anak |
: |
1. ZIDAN ATTAQIY (Desember 2005) 2. INAS ABIDA (Pebruari 2007) |
|
Alamat rumah |
: |
Bakalan RW 2 RT 7 Tamanagung Muntilan Magelang |
|
Alamat kantor |
: |
TKIT Asy-Syaffa’ d.a. Kp. Tulung 48/91 Magelang No. Tlpn. : 0293-363683 |
|
|
|
|
Astanti Mei 24, 2007
Posted by hiperkes95 in Data Konco2.add a comment
|
Nama |
: |
ASTANTI |
|
Nama suami |
: |
SUKAMTO |
|
Nama anak |
: |
DAYANA ALMA EVELYN (6 Desember 2008 ) |
|
Alamat rumah |
: |
Tangerang Banten HP : 081519492935
|
|
Alamat kantor |
: |
PT. JABATEX Jl. Kalisabi Cibodas Tangerang
|
Ninik Andrias April 11, 2007
Posted by hiperkes95 in Data Konco2.add a comment
|
Nama |
: |
NINIK ANDRIAS |
|
Nama suami |
: |
PETRA BAKTI |
|
Nama anak |
: |
KAIA BETHANI LAKSITA (31 Oktober 2003) |
|
Alamat rumah |
: |
- No HP: 08122985377 |
|
Alamat kantor |
: |
-
|
Einstein Never Used Flash Cards April 3, 2007
Posted by hiperkes95 in Artikel.add a comment
Bermain = Belajar
Informasi buku:
Einstein Never Used Flash Cards : How Our Children Really Learn– And Why They Need to Play More and Memorize Less
by Roberta Michnick Golinkoff (Author), Kathy Hirsh-Pasek (Author), Diane Eyer (Author)
Itu pesan yang disampaikan dalam buku ini yang ditulis oleh tiga peneliti di bidang psikologi perkembangan. Pesan tersebut didukung oleh berbagai penelitian dalam bidang psikologi perkembangan anak selama 40 tahun belakangan. Tetapi meskipun bukti-bukti penelitian menyatakan demikian, pesan tersebut tampaknya tidak sampai kepada kita, orang tua dan pengasuh anak. Buku ini mengingatkan kita bahwa kita terjebak dalam asumsi yang salah sehingga kita membuat anak-anak kita belajar (dalam konteks akademis) lebih awal dan mengurangi waktu bermain mereka, sementara dalam bermainlah anak-anak belajar banyak.
Sebagai orang tua, kita tentu selalu mengkhawatirkan kesejahteraan anak-anak kita. Salah satu yang kita khawatirkan adalah apakah anak kita akan memiliki keunggulan untuk bersaing di dunia yang semakin kompetitif. Akibatnya kita sangat mengedepankan perkembangan otak anak: susu formula yang kita pilih adalah susu yang mengandung semua zat yang membantu pertumbuhan otak bayi; kita membelikan mainan yang merangsang intelejensia anak; musik Mozart dan Bach menjadi menu bagi telinga mereka. Begitu anak-anak kita mulai bicara, sebagian dari kita berlomba-lomba memasukkan anak-anak kita ke kelompok bermain dan taman kanak-kanak yang menawarkan pelajaran musik, program dwi-bahasa, mental aritmatika dan berbagai aktivitas lain. Kita merasa bahwa belajar secara mandiri sebagaimana yang telah dilakukan selama ribuan tahun tidak lagi cukup. Kekhawatiran kita menyebabkan anak-anak kita menjadi “anak-anak yang dibuat tergesa-gesa,” dan mereka pun kehilangan masa kecil.
Telah banyak pakar yang membicarakan masalah di atas, dan para penulis dalam buku ini memberikan penawarnya. Dalam buku ini kita bisa menemukan berbagai bukti ilmiah mengenai perkembangan intelektual dan sosial anak tanpa bumbu-bumbu apa pun dari media massa maupun dari pemasaran industri pendidikan anak sehingga kita bisa lebih mengerti perkembangan anak kita dan mengapa bermain adalah belajar. Dengan berbekal pengetahuan tersebut, kita sebagai orang tua diharapkan dapat lebih percaya diri dalam mendidik generasi mendatang.
Buku ini dibagi dalam sepuluh bab. Setiap bab berisikan bukti-bukti penelitian dan tips-tips bagaimana secara praktis menerapkan berbagai hasil penelitian tersebut dalam keseharian. Penulis membuka dengan mengungkapkan situasi orang tua modern di mana mereka menghadapi situasi yang kompetitif dan mereka berupaya agar anak-anak mereka bisa unggul dengan persiapan sejak dini. Di bab dua, buku ini membahas otak dan perkembangannya, dan membantah mitos-mitos yang berkembang seputar perkembangan otak dan intelejensia anak. Bab-bab selanjutnya menjelaskan perkembangan anak dalam hal kemampuan mengenal kuantitas, bahasa, membaca, intelejensia, dan keterampilan sosial. Dalam dua bab terakhir, penulis menjelaskan mengenai bermain dan pentingnya bermain sebagai sarana belajar, serta rumus-rumus baru bagi kita sebagai orang tua dalam mengasuh anak.
Salah satu kesimpulan penelitan yang disampaikan di bab pertama adalah bahwa hubungan yang responsif dan bersifat mengasuh yang diterima anak dari orang tua dan para pengasuh merupakan hal kunci dalam memperkirakan perkembangan intelektual dan emosional anak. Selain itu sebuah kajian oleh salah seorang penulis terhadap anak-anak yang dimasukkan ke taman kanak-kanak ‘akademis dengan yang dimasukkan ke TK biasa yang mengutamakan bermain menemukan bahwa mereka yang masuk ke TK ‘akademis’ tidak memiliki keunggulan akademis jangka pendek, apalagi jangka panjang, dibandingkan dengan yang masuk ke TK biasa. Perbedaan kemampuan akademis antara kedua kelompok bahkan tak terlihat di kelas satu SD. Tetapi terdapat satu perbedaan antara kedua kelompok. Kelompok pertama terlihat lebih gelisah dan kurang kreatif dibandingkan kelompok kedua. Jadi, anak-anak menjadi korban jika belajar secara akademik dipaksakan sebelum mereka siap.
Bab dua dimulai dengan menjelaskan otak dan sel-sel syaraf sehingga kita mengerti bagaimana mereka bekerja. Menurut penelitian, otak terus berkembang dan berubah selama selama hidup manusia dengan menciptakan sinapsis-sinapsis baru, memperkuat yang perlu, dan sebaliknya menghapus yang tidak perlu. Penghapusan sinapsis (hubungan antara sel-sel syaraf) adalah sesuatu yang penting bagi otak agar bisa membuat keputusan dengan cepat dan tepat. Bahkan sebuah kelainan genetik yang mengakibatkan cacat mental terkait dengan tidak adanya penghapusan sinapsis. Dengan demikian anggapan umum bahwa kita harus melakukan berbagai upaya agar jangan sampai bayi kehilangan banyak sinapsis adalah salah.
Seperti anggapan di atas, mitos mengenai lingkungan yang diperkaya juga tidak memiliki landasan ilmiah. Mitos mengenai lingkungan yang diperkaya akan merangsang pertumbuhan otak bayi adalah interpretasi yang salah atas penelitian yang membandingkan besar otak tikus yang dibesarkan sendiri di kandang sempit dengan yang dibesarkan bersama beberapa tikus lain di kandang besar yang berisi mainan, lorong-lorong, dan perosotan (lingkungan yang diperkaya). Hasil penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa tikus yang memiliki otak paling besar adalah tikus yang dibesarkan di lingkungan alami. Sayangnya hasil yang terakhir ini kurang mendapatkan publikasi yang luas. Seorang peneliti mengungkapkan kekhawatiran bahwa memperkenalkan lingkungan yang diperkaya dan program pelatihan yang ambisius lebih awal kepada anak berpotensi mengurangi kreativitas si anak. Jadi, terlalu banyak belajar lebih awal justru menjadi penghambat dan bukan pendorong bagi perkembangan intelejensia anak.
Kita juga sering mendengar bahwa tiga tahun pertama anak adalah “masa kritis” pertumbuhan otak yang akan menentukan apakah si anak akan menjadi seorang jenius di masa datang, dan selepas tiga tahun kesempatan itu tidak ada lagi. Tetapi anggapan ini juga tidak benar. Sebagai contoh, penelitian mengenai kemampuan berbahasa Inggris terhadap imigran dari Cina atau Spanyol di Amerika menemukan bahwa imigran yang datang waktu Ia lebih muda memiliki kemampuan yang lebih baik, tetapi tidak ada “masa kritis” di mana bahasa asing tidak lagi bisa dipelajari. Terlebih lagi, tidak ada bukti yang menunjukkan pengalaman belajar di masa kecil membantu pertumbuhan otak. Selama anak tumbuh di lingkungan yang normal, dan dikelilingi orang-orang yang menyayangi mereka, otak mereka akan tumbuh sendiri.
Setelah mematahkan anggapan umum mengenai perkembangan otak, buku ini kemudian menjelaskan bagaimana anak-anak mempelajari kuantitas. Bayi diperkirakan telah mengetahui konsep lebih dan kurang. Saat mereka tumbuh, kemampuan mereka berkembang menjadi mengetahui jumlah, dan para usia sekitar lima tahun mereka telah bisa menghitung dan membandingkan jumlah. Dalam hal bahasa, bayi telah mengetahui bahasa ibunya saat mereka masih berusia dua hari, dan saat mereka berusia lima bulan mereka tahu bahwa bahasa terdiri atas kalimat-kalimat. Ketika mereka berusia sekitar 18 bulan dan telah menguasai 50 kata, yang merupakan massa kritis di mana mereka mulai bisa membentuk kalimat dari dua kata. Saat itulah mereka mulai sering bertanya, “apa ini?”, “apa itu?”, dan bayi 18-20 bulan mampu belajar hingga sembilan kata per-hari. Kemampuan berbahasa anak terus berkembang dengan cara menemukan pola-pola di dalam bahasa dan kemudian belajar menggunakannya sendiri.
Kemampuan berbahasa adalah dasar bagi kemampuan membaca anak. Sebelum anak dapat membaca, mereka harus mengembangkan empat kemampuan dasar: kosa kata, bercerita, mengenal fonem, dan mengetahui kode tertulis. Kemampuan mengenal fonem berarti mampu memisahkan bunyi dalam kata, seperti “t” di “topi” dan “k” di “makan.” Berdasarkan penelitian, 17 persen murid taman kanak-kanak dan 70 persen murid kelas satu sekolah dasar mampu memisahkan bunyi dalam kata. Anak harus mampu mengenal kode tertulis sebelum bisa membaca, yakni memisahkan huruf-huruf dari kata, mengetahui bunyi yang dihasilkan huruf-huruf, dan menggabungkan bunyi masing-masing huruf sehingga membentuk kata. Kemampuan membaca lalu diikuti oleh kemampuan menulis yang biasa dimulai pada usia taman kanak-kanak. Saat anak mulai menuliskan kata-kata yang mereka dengar tetapi mereka salah menuliskan ejaan, mereka telah mencapai kemajuan besar yaitu mengerti bagaimana cara kerja kata dalam bahasa.
Anak-anak belajar dari kegiatan mereka sehari-hari. Mereka selalu belajar dengan aktif, dan berusaha mengerti lingkungan mereka. Sesuatu berulang-ulang yang dilakukan anak-anak, yang kadang membuat kita kesal, sering merupakan cara mereka untuk mengerti sesuatu. Kalau kita memperlihatkan kartu-kartu yang bergambar (flash card) dan mengucapkan apa yang tergambar di kartu tersebut, mereka akan membeo. Tetapi kalau kita membiarkan mereka bermain dengan permen mereka akan tertarik dengan kuantitas. Kunci dalam proses belajar mereka adalah belajar dalam konteks.
Buku ini juga menjelaskan perkembangan anak dalam hal mengenal identitas diri, yaitu mengenal tubuh dan mengenal emosi serta bagaimana mengendalikan emosi sendiri. Anak pun mulai bisa mengevaluasi diri sendiri, tetapi kemampuan ini membutuhkan waktu yang lama. Menurut hasil penelitian, hanya 59 persen anak berusia 30 – 40 bulan memberikan respon secara emosional saat mereka berlaku “buruk.”
Dalam perkembangan sosialnya, dijelaskan bahwa anak pertama-tama mulai bisa membedakan antara orang dan barang, kemudian mereka bisa mengetahui emosi orang lain, dan pada tahap akhir mereka bisa menghargai bahwa orang lain berbeda pandangan daripada mereka. Dalam perkembangan tahap kedua, para peneliti melihat bahwa bayi membentuk keterikatan dengan sekelompok orang, dan sifat keterikatan di masa awal kehidupan mereka penting dan dapat memberikan dampak yang besar dalam penyesuaian-penyesuaian emosi dan akademik anak nantinya. Walaupun begitu, hubungan antara keterikatan dan penyesuaian di masa datang hanya terlihat jika si anak terus berada dalam lingkungan yang menyayangi dan mendukungnya.
Sebagai orang tua, yang perlu kita lakukan adalah memberikan dukungan bagi anak-anak untuk berkembang secara sehat. Salah satu dukungan tersebut mungkin telah kita lakukan selama ini, yaitu apa yang disebut sebagai scaffolding di mana kala kita melihat anak kesulitan melakukan sesuatu kita lalu memberikan sedikit bantuan yang membuat mereka dapat melakukan hal tersebut. Misalnya saat anak menyusun puzzle dan ia kesulitan, kita membantu dengan memasangkan satu potong puzzle sehingga ia bisa menyelesaikan puzzle tersebut. Hal lain yang dapat kita lakukan adalah dengan berbicara dengan anak dan membaca buku bagi mereka. Kegiatan ini dapat menambah kosakata (penguasaan kosakata dapat meningkatkan IQ sebesar 15-20 poin), penguasaan bahasa, dan minat baca. Selain itu, jika kita berbicara dengan mereka tentang emosi orang lain, hal ini dapat meningkatkan intelejensia sosial mereka. Misalnya, kita dapat menjelaskan kepada mereka, “Si polan sedih karena mainannya hilang,” atau “Si polan menangis karena tangannya sakit.”
Karena si anak adalah mesin bagi perkembangan mereka sendiri, maka yang sebaiknya dilakukan orang tua adalah menjadi mitra bagi mereka. Kita berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas anak kita, tetapi mereka lah yang memimpin dalam aktivitas-aktivitas tersebut. Kita mengulurkan sedikit bantuan kepada mereka (scaffolding) dan mengarahkan mereka mengenai hal-hal yang menyangkut moral. Di samping itu tentu saja kita harus memberikan pujian kepada mereka.
Pujian adalah senjata yang kuat sekaligus berbahaya. Ada anggapan umum yang salah bahwa memuji intelejensia anak dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam bidang akademik. Anak-anak perlu dipuji atas usaha mereka karena belajar harus dilihat sebagai proses, bukan sebagai pembuktian atas kemampuan mereka. Dengan memuji usaha anak, kita mengajari mereka untuk menilai diri sendiri atas upaya yang mereka kerahkan untuk mencapai sesuatu sehingga mereka tumbuh menjadi manusia yang tidak mudah menyerah.
Setelah kita tahu bagaimana perkembangan anak di berbagai sisi, lantas bagaimana dengan bermain? Bab 9 menjelaskan pentingnya bermain bagi anak. Bukti-bukti penelitian menunjukkan dengan jelas, bermain mendorong perkembangan di berbagai sisi. Para peneliti telah menemukan bahwa bermain terkait dengan kreativitas dan imajinasi yang lebih baik, dan bahkan dengan kemampuan membaca dan skor IQ yang lebih tinggi. Jadi, jelas bahwa BERMAIN = BELAJAR. Terlebih lagi, jika orang dewasa ikut (bukan mengontrol) bermain dengan anak, tingkat permainan mereka meningkat.
Bagaimana mendefinisikan bermain? Menurut para peneliti, bermain memiliki lima unsur. Pertama, bermain harus bisa dinikmati dan menyenangkan. Kedua, bermain tidak boleh memiliki tujuan yang ditentukan. Ketiga, bermain harus spontan dan sukarela, bebas sesuai pilihan yang bermain. Keempat, para pemain harus terlibat aktif. Dan terakhir, bermain mengandung unsur berpura-pura.
Dari kelima unsur tersebut, yang paling sering kita hilangkan adalah unsur kedua. Kita membelikan anak-anak kita mainan yang mengandung unsur pendidikan. Hal ini tidak berarti semua mainan tersebut tidak bagus bagi anak. Yang perlu kita ingat adalah mainan tersebut, bukan si anak, menentukan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Hal serupa terjadi dalam aktivitas-aktivitas yang terorganisir: orang dewasa mengarahkan apa yang harus dilakukan anak. Anak-anak perlu mengarahkan sendiri kegiatan bermain mereka. Dengan begitu, mereka merasa memiliki kekuasaan atas permainan mereka. Ini adalah salah satu fungsi utama bermain.
Menjauhkan anak dari bermain dapat mengarah kepada depresi dan kekerasan. Penelitian pada binatang menunjukkan bahwa tanpa bermain, binatang mengalami penundaan dalam kematangan otak. Penelitian juga membuktikan bahwa memberikan istirahat bermain kepada anak si sekolah memaksimalkan perhatian mereka kepada tugas-tugas sekolah yang melibatkan berpikir.
Semua peneliti sepakat bahwa bermain memberikan dasar yang kuat bagi pertumbuhan intelejensia, kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Bermain juga merupakan alat untuk perkembangan emosi serta pengembangan keterampilan-keterampilan sosial dasar anak. Kita, orang tua, juga mungkin telah mengerti hal ini, tetapi mungkin kita kurang memfasilitasi anak untuk bermain karena kita khawatir bahwa mereka menjadi tidak belajar.
Buku ini memberikan banyak penjelasan tentang bermain dan manfaatnya. Saat anak bermain dengan benda-benda fisik, mereka belajar tentang hubungan antara satu benda dengan benda yang lain. Pengalaman mereka dari memainkan benda-benda tersebut tidak bisa diganti dengan kartu-kartu bergambar, atau bahkan dengan permainan komputer. Kreatifitas mereka diasah dengan bermain bebas dan tak terstruktur. Kemampuan berbahasa mereka berkembang dengan bermain pura-pura. Ketika mereka bermain “masak-masakan” dengan teman-teman, mereka mengembangkan kemampuan sosial mereka. Anak-anak yang berlari ke sana ke mari melatih kemampuan motorik mereka.
Albert Einstein memiliki kepandaian yang luar biasa, bukan karena Ia mengetahui banyak hal, tetapi Ia pemikir yang hebat. Tidak sedikit dari kita yang mengharapkan anak-anak kita memiliki kepandaian seperti Einstein. Waktu ia berusia 6 tahun, ia diikutkan dalam pelajaran musik, tetapi ia tidak pandai-pandai. Tiba-tiba pada umur 13 tahun ia sangat menyenangi Mozart dan pandai bermain biola. Komentar Einstein tentang kemampuan musiknya adalah “Love is a better teacher than a sense of duty.”
Yang dapat kita pelajari dari masa kecil Einstein adalah Ia mengambil jalannya sendiri, dan sebagian besar proses belajarnya terjadi saat Ia bermain. Jadi, kalau ibu Einstein tidak mengajarinya dengan kartu-kartu bergambar, mengapa kita harus melatih (drill) anak-anak kita, mengajarkan mereka membaca sebelum masuk taman kanak-kanak, bahkan mengajari mereka aritmatika sebelum umur tiga tahun? Kita tentu melakukan hal-hal tersebut dengan niat baik, tetapi mungkin kita melakukannya hanya karena kita tidak menerima informasi yang benar.
Buku ini menyebutkan empat mitos yang tak sehat yang menjadi petunjuk bagi kita dalam membesarkan anak:
- Lebih cepat lebih baik
Kita ingin mempercepat perkembangan kognitif dan sosial anak. - Jadikan setiap saat berarti
Jangan sampai ada waktu anak yang terbuang percuma. - Orang tua adalah serba bisa
Kita menganggap bahwa hanya kita yang bertanggung jawab atas perkembangan anak. - Anak adalah gelas kosong
Anak-anak hanya menunggu untuk diisi.
Kita perlu melepaskan diri dari asumsi-asumsi tersebut, lalu mendidik anak-anak kita menggunakan empat prinsip berikut:
- Belajar yang paling baik adalah belajar yang berada dalam jangkauan anak
Anak perlu keluarga, teman, dan guru mereka untuk melampaui kemampuan alami mereka. - Menekankan proses di atas hasil menciptakan kecintaan terhadap belajar
Kita perlu memperhatikan bagaimana mereka belajar selain apa yang mereka pelajari. - EQ, bukan hanya IQ
Anak yang lebih banyak bermain cenderung lebih bahagia, dan mereka cenderung memiliki hubungan lebih baik dengan teman-teman mereka, dan kemudian lebih aktif di sekolah. EQ dan IQ berkembang melalui bermain. - Belajar dalam konteks adalah belajar yang sebenarnya – dan bermain adalah guru terbaik.
Dengan segala pengetahuan yang kita peroleh dari penelitian-penellitian tentang perkembangan anak, yang paling penting bagi kita orang tua adalah menciptakan keseimbangan. Keseimbangan antara bermain bebas dan aktivitas yang diorganisasikan orang dewasa. Dengan kesadaran seperti ini, kita orang tua dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita.
Sebagai penutup, buku ini memberikan tiga kunci, yaitu 3 R, untuk mencapai keseimbangan tersebut:
- Reflect
Tanyakan diri kita saat kita mendaftarkan anak kita ke suatu aktivitas yang terstruktur, apakah kita melakukannya karena keempat mitos salah yang disinggung di atas. - Resist
Tolak dorongan yang mengatakan bahwa lebih cepat adalah lebih baik. - Re-center
Fokus kembali kepada empat prinsip di atas yang memiliki landasan ilmiah.
Bukti-bukti ilmiah yang ada di dalam buku ini membuat kita orang tua bisa merasa lebih tenang dalam membesarkan putra-putri kita karena kita mengetahui bahwa bermain memberi manfaat yang banyak bagi perkembangan anak. Buku ini berisi banyak sekali tips-tips praktis untuk membantu anak kita mengembangkan diri mereka secara sehat. Sayang sekali untuk melewatkan buku ini. Selamat membaca!

